UPDATED DAILY 29 Juli 2010
BREAKINGNEWS
07/01/10 15.45 Johnny Depp, aktor terfavorit dekade ini...
07/01/10 15.46 Lama vakum, Cinta Laura kembali ke dunia hiburan...
07/01/10 15.47 Carissa PUtri takut menikah karena trauma orang tua bercerai...
07/01/10 15.47 Rihanna berniat loncat ke layar lebar tahun 2010.....

News

Burung Merak Itu T'lah Terbang Untuk Selamanya

Burung Merak Itu T'lah Terbang Untuk Selamanya

Jumat 07 Agustus 2009

Jakarta -  Inalilahi Wainalilahi Rojiun. Penyair hebat W.S Rendra, berpulang kerahmatullah, Rabu (06/08) malam, di usianya yang ke 73 tahun.

Sebelum meninggal, penyair kelahiran Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 silam ini,  sempat dirawat di rumahnya di Pesona Kayangan Depok. 

Berhubung,  kondisinya memburuk, ia pun dilarikan ke RS Mitra Depok. Tepat pukul 22.05 WIB dia menghembuskan nafas terakhir.

Di dunia seni dan budaya tanah air, rasanya tidak ada yang tidak mengenal nama dan sosok W. S Rendra. Sejak usia muda   penyair yang  dijuluki sebagai "Burung Merak" itu sudah menekuni dunia seni budaya, khususnya puisi, cerpen, esai.

Rendra terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto. Ia  anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Darah seni mengalir begitu deras di tubuhnya. Lihat saja, sang ayah, adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional. Sementara ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta.

Masa kecil hingga remaja, dihabiskan Rendra  di kota kelahirannya.
Ia  menuntut ilmu, di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius. Kemudian, sekolah di SD hingga SMA di sekolah Katolik, St. Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955.  Saat di masa sekolah ini, bakat seni sudah muncul dari seorang WS Rendra.

Redra sempat kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, meski tidak sempat tamat.

Kemudian, tahun 1964 sampai 1967, Rendra  dapat beasiswa American Academy of Dramatical Art.

Saat masa kuliah, kepiawaian Rendra sebagai penyair dan penulis mulai dikenal luas. Berbagai karya-nya mampu membius pembaca dan pendengarnya.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Sekitar tahun 1961, sepulang menuntut ilmu dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater.

Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Prestasinya sebagai seniman juga dibuktikan dengan berbagai penghargaan bergensi yang berhasil ia gondol, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Saat berusia 24 tahun, Rendra menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.

Belakangan sosok wanita lain hadir dalam kehidupan Rendra. Dia adalah Sitoresmi Prabuningrat. Sitoresmi yang akrab disapa Rendra dengan panggilan Jeng Situ itu, merupakan salah satu muridnya di Bengkel Teater.

Jeng Sito yang bernama lengkap  Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta. Awlnya, Jeng Sito diberi tugas tambahan, y menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Belakangan, benih cinta tubuh di hati Rendra-Sitoresmi. Ditemani Sunarti, istri pertama Rendra, penyair yang selalu berambut agak panjang itu  melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya.

Namun, cinta Rendra-Sitoresmi terhalang beda keyakinan diantara mereka. Ayah Sitoresmi yang Islam tak mengizinkan putrinya menikah dengan pria Katholik.

Bukti cintanya, Rendra  memilih untuk menjadi mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi budayawan Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Kabar Rendra jadi mualas jadi perbincangan. Ia dituding mau masuk Islam hanya karena ingin beristri dua. Tapi, Rendra membantahnya.

Rendra mengaku sudah tertarik dengan Islam sejak lama. Menurut Rendra, Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini.

Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Belakangan, si Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Sayangnya, Rendra tak bisa mempertahankan rumah tangganya denga kedua istrinya terdahulu. Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Saat menghebuskan nafas terakhirnya, W.S Rendra diketahui meninggalkan Ken Zuraida sang istri dan sebelas orang anak dan sejumlah cucu. man/krosceknews.com/berbagai sumber

Rating:
Voted: 0
Bookmark and Share

Related News

07 Agustus 2009 Cornelia Agatha Akui WS Rendra Sebagai Guru

07 Agustus 2009 Rieke Diah Pitaloka Tangisi Kepergian WS Rendra

Comment

Jumat 07 Agustus 2009, post by

Selamat jalan.... om Rendra.... karya mu pasti akan selalu kami kenang. Kau tak hanya seniman tapi juga pembela kebenaran... selamat jalan om Rendra....


Post a Comment

Email*
Comment
Share your thoughts about this website!
krosceknews.com|beta version