News
Detik-detik Kebebasan Manohara
Senin 01 Juni 2009
Jakarta - Mimpi buruk yang selama ini menghantui Manohara Odelia Pinot berakhir sudah. Setelah melalui pembebasan yang dramatis, sang ibu, Ny. Daisy Fajarina, akhirnya bisa membawa kembali Mano, begitu Manohara akrab disapa, ke Jakarta.
Dengan menggunakan pesawat komersial dari Singapura, Manohara bersama sang ibu dan Dewi, sang kakak tercinta, tiba di Bandara Soekarno-Hatta, pukul 07.48 WIB, Minggu (31/05) pagi kemarin.
Detik-detik pembebasan itu mungkin sulit dilupakan Mano. Bagaimana tidak, di tengah cengkraman dan pengawasan pihak kerajaan yang demikian ketat, Mano harus bisa mencari celah agar bisa kabur.
Seperti dikisahkan Mano dan Ny. Daisy, yang ditemui di kantor ‘Laskar Merah Putih’, di bilangan Petojo, Jakarta Pusat, Minggu (31/05) kemarin. Semua ini berawal dari sebuah lift di lantai 3 Royal Palace Hotel, Singapura, Minggu (31/05) pukul 02.00 waktu setempat.
Mano sebenarnya berencana tinggal di sana selama 5 minggu, untuk menemani mertua perempuannya, ibunda Tengku Fakhry, yang tengah menjenguk Raja Kelantan, Ismail Petra, berobat di Singapura.
Mendengar ibunya akan datang ke Singapura, Manohara segera mengontaknya. Namun, tidaklah mudah untuk bisa lepas dari kawalan. Apalagi, Raja menginap di lantai 3. Mano pun tertahan tak bisa keluar. Tak kehabisan akal, Mano masuk lift, kemudian menekan alarm dan teriak–teriak.
Trik ini berhasil menarik perhatian polisi Singapura. Dari situ campur tangan beberapa pihak, antara lain petugas FBI, polisi Singapura juga pihak KBRI Singapura serta Kedubes Amerika di Singapura, yang akhirnya berhasil membebaskan Mano dari tangan Fakhry, suaminya.
Kepada wartawan, model cantik ini juga mengungkapkan ketidakbahagiaannya bersuamikan Tengku Fakhry. Berbagai penyiksaan ia alami, selama hidup dalam lingkungan kerajaan, seperti penyiletan tubuhnya, kekerasan seksual hingga suntikan yang bisa membuatnya muntah darah.
Semua itu dilakukan Fakhry, secara sadar, dalam kapasitasnya sebagai Pangeran Kelantan. Karenanya, Mano pun dengan tegas menyatakan suaminya seorang psikopat dan kekanak-kanakan, “Tengku itu psiko, childish.”
Sementara, untuk mendongkrak kesan sebagai suami yang bisa membahagiakan sang istri, Tengku Fakhry sengaja menyuntikkan hormon agar Mano terlihat lebih gemuk. “Setelah saya disuntik, besoknya muntah darah dikit, dua sampai tiga kali sehari muntah darah. Dalam empat hari, naik lebih dari 10 kilo, kan gak mungkin. Saya gak makan satu karung beras,” ungkap Mano.
Kehidupan kerajaan juga bak jauh panggang dari api. Kemewahan yang sering ditampilkan pihak kerajaan akan pasangan Mano dan Fakhry, ternyata hanyalah kamuflase belaka. Sebagai istri pangeran yang mendapat gelar Cik Puan Tumenggung Mano, foto-fotonya yang terlihat selalu ceria dikarenakan ia telah diancam untuk berpose bahagia.
“Mano di Kelantan itu tidak seperti putri, seperti binatang yang dikunci di kamar. Kalau mau keluar, disuruh senyum. Di kamar, saya seperti obyek mainan dia. Saya hanya object, that’s it, kapanpun dia mau,” papar wanita berusia 17 tahun tersebut.
Begitupun soal kemewahan yang selalu terlihat dalam setiap penampilan Mano di depan publik. Menurut Mano, semua yang pernah melekat di tubuhnya itu hanyalah pinjaman belaka. Soal uang ribuan ringgit yang ia terima pun, tak bisa digunakan bila tanpa izin pihak kerajaan, “Dikasih dalam account Mano yang tidak dipegang, yang tidak bisa diakses Mano setiap saat.”
Banyaknya bukti kekerasan yang dibawa Mano membuat Ny. Daisy pun lega. Pasalnya, apa yang selama ini ia kabarkan ke khalayak tentang kekerasan yang dialami putrinya, memang bukan kebohongan belaka.
Dengan begitu, ia pun tak merasa menyesal telah menggandeng Laskar Merah Putih, untuk berjuang memulangkan Manohara dari lingkup kerajaan Kelantan.
“Jadi bukan semata-mata ibu Daisy. Tapi ini Srikandi Indonesia yang disiksa. Tentunya rasa malu kita akan terpanggil. Kita Bantu, kita terpanggil. Kita tidak akan tinggal diam,” ungkap Edy Hartawan, selaku Ketua Laskar Merah Putih.
Atas kabar itu, wakil kerajaan Kelantan di Jakarta, Ichsan menyatakan bahwa kepulangan Manohara ke Tanah Air merupakan bukti bahwa tidak benar dugaan keluarga kerajaan Kelantan mencoba menghalangi Ny. Daisy untuk menemui Manoraha.
Ichsan pun mengungkap, bila tidak ada dendam di pihak Tengku Fakhry atas kepulangan Manohara ke Jakarta, “Entahlah, sebab belum ada cerai. Tengku Fakhry gak ada dendam. Aku terima telepon barusan, ½ jam lalu. Kata dia, ‘Ini takdir, jodoh, mati, lahir, ini dari dia. Jika mano mau kembali, silahkan. Kalau tidak, silahkan.’” Tim Kroscek


Category News


