BREAKINGNEWS
07/01/10 15.45
Johnny Depp, aktor terfavorit dekade ini...
07/01/10 15.46
Lama vakum, Cinta Laura kembali ke dunia hiburan...
07/01/10 15.47
Carissa PUtri takut menikah karena trauma orang tua bercerai...
07/01/10 15.47
Rihanna berniat loncat ke layar lebar tahun 2010.....
News
WS Rendra, The Living Legend
Selasa 12 Juni 2007
Jakarta – WS Rendra adalah seniman dan budayawan besar Indonesia yang komplit. Ia menjadi penyair, cerpenis, eseis, dramawan, sutradara, dan juga aktor film. Sumbangan Rendra pada seni dan kebudayaan Indonesia membuatnya pantas diprofilkan.
Bagi para seniman muda, sosok Rendra yang sudah berusia di atas 70 tahun ini memang sudah seperti legenda yang hidup (the living legend). Pada tahun 2007 ini, setelah sekian lama “menghilang”, Rendra muncul lagi dan bermain dalam film “Lari dari Blora”, yang mengangkat kehidupan dan perjuangan masyarakat Samin.
Lelaki kelahiran Solo, 7 November 1935 ini memang tak bisa dipisahkan dari keberadaan “Bengkel Teater”, yang pertama kali didirikan di Yogyakarta, dan kemudian pindah ke Cipayung, Depok, Jawa Barat. Sejumlah tokoh pernah belajar atau mondok di “Bengkel Teater”, termasuk Teguh Karya, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan bahkan Ishadi SK (Dirut Trans TV sekarang) juga pernah belajar di sana.
“Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater,” kata Rendra.
Dilanjutkan Rendra, sejak muda ia memang telah dikenal sebagai dedengkot “Bengkel Teater” sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui “Bengkel Teater” inilah ia telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, Rendra dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningrat, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istrinya yang kedua.
“Tetapi justru melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang, setelah memperoleh 4 orang anak, perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga,” kata Rendra.
Setelah bercerai dari Sitoresmi, Rendra akhirnya menikahi Ken Zuraida. Di perkawinannya yang ketiga ini, justru membuat Rendra semakin rajin beribadah kepada Allah SWT.
Dan bukan suatu kebetulan, jika ia kemudian mantap bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Fals dalam grup Swami dan Kantata Takwa. “Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an,” ujarnya.
Rendra kini telah berusia 72 tahun. Berbagai tindakan bermakna dan inspiratif telah ia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan pula.
Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang. “Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saya, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur-leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah,” kata Rendra.Opie/ Berbagai Sumber
Bagi para seniman muda, sosok Rendra yang sudah berusia di atas 70 tahun ini memang sudah seperti legenda yang hidup (the living legend). Pada tahun 2007 ini, setelah sekian lama “menghilang”, Rendra muncul lagi dan bermain dalam film “Lari dari Blora”, yang mengangkat kehidupan dan perjuangan masyarakat Samin.
Lelaki kelahiran Solo, 7 November 1935 ini memang tak bisa dipisahkan dari keberadaan “Bengkel Teater”, yang pertama kali didirikan di Yogyakarta, dan kemudian pindah ke Cipayung, Depok, Jawa Barat. Sejumlah tokoh pernah belajar atau mondok di “Bengkel Teater”, termasuk Teguh Karya, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan bahkan Ishadi SK (Dirut Trans TV sekarang) juga pernah belajar di sana.
“Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater,” kata Rendra.
Dilanjutkan Rendra, sejak muda ia memang telah dikenal sebagai dedengkot “Bengkel Teater” sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui “Bengkel Teater” inilah ia telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, Rendra dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningrat, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istrinya yang kedua.
“Tetapi justru melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang, setelah memperoleh 4 orang anak, perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga,” kata Rendra.
Setelah bercerai dari Sitoresmi, Rendra akhirnya menikahi Ken Zuraida. Di perkawinannya yang ketiga ini, justru membuat Rendra semakin rajin beribadah kepada Allah SWT.
Dan bukan suatu kebetulan, jika ia kemudian mantap bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Fals dalam grup Swami dan Kantata Takwa. “Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an,” ujarnya.
Rendra kini telah berusia 72 tahun. Berbagai tindakan bermakna dan inspiratif telah ia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan pula.
Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang. “Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saya, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur-leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah,” kata Rendra.Opie/ Berbagai Sumber


Category News


