« on: July 05, 2009, 09:02:51 PM »
Source :
KrosceknewsJauh-jauh menuntut ilmu komunikasi massa di Elizabethtown College, Pennsylvania, Amerika Serikat, Nia Dinata kini malah memilih dunia film sebagai jalan hidupnya.
Meskipun tidak terlahir dari keluarga yang terjun di dunia sinematografi, namun, sejak kecil, pemilik nama lengkap Nurkurniati Aisyah Dewi ini telah terbiasa menonton film layar lebar bersama keluarganya.
“ Saya bisa menciptakan dunia milik saya sendiri hanya dengan menonton sebuah film,” begitu ungkap wanita pemilik nama lengkap Nurkurniati Aisyah Dewi tersebut.
Nia mengaku bila ia mulai jatuh cinta pada dunia sinematografi, saat masih duduk di bangku kuliah. “Saat itu, pikiran saya dibukakan bahwa ada berrbagai macam keanekaragaman dalam sinematografi. Dari situ, saya bisa merasakan adanya ‘kekuatan film’ yang dapat menginspirasi orang-orang untuk mengubah opini pribadi mereka dan juga mengubah hidup mereka.”
Lantaran kecintaan itulah ibu dua putra ini akhirnya memutuskan untuk mengambil kelas produksi film di NYUTisch School of Art, New York, Amerika Serikat.
Setelah sempat menjadi reporter berita di salah satu stasiun televisi swasta, wanita kelahiran Jakarta, 4 Maret 1970 ini akhirnya memutuskan untuk banting setir dan mewujudkan impiannya berkarya di dunia sinematografi. Beberapa video klip serta iklan komersil televisi menjadi debut perdana kakak ipar Ersa Mayori tersebut.
Nia masih ingat betul masa-masa awal perjuangannya saat pertama kali terjun di industri perfilman Tanah Air. “Waktu saya baru saja memasuki dunia ini, sekitar awal tahun 90-an, situasinya benar-benar berbeda dengan sekarang. Kala itu, minim sekali informasi tentang film dan fasilitas yang tersedia sangatlah terbatas,” begitu kenangnya.
Di tahun 1998, cicit pahlawan nasional Otto Iskandardinata ini mengukir prestasi di Festival Sinetron Indonesia 1998. Sinetron karyanya, ‘Mencari Pelangi’, berhasil meraih Piala Vidia dalam dua kategori, ‘Drama Terbaik’ dan ‘Film Terbaik’.
Setahun berikutnya, Nia mendirikan perusahaan film independen, ‘Kalyana Shira Film’. Namun, biarpun begitu, ia mengaku bila ketika itu, ia sama sekali tidak memiliki pengalaman manajerial dan hanya mengandalkan instingnya belaka.
Lantaran jatuh cinta pada novel ‘Ca Bau Kan’ karya Remy Silado, Nia lalu memutuskan untuk mengadaptasi novel tersebut dalam bentuk film layar lebar. Usahanya terbilang sukses. Film itu bahkan berhasil mendapatkan banyak penghargaan dari berbagai festival film internasional
Prestasi kembali diukir sulung dari tiga bersaudara ini di tahun 2004. Film arahannya, ‘Arisan’, yang sempat menghebohkan lantaran adanya adegan Surya Saputra dan Tora Sudiro berciuman, meraih banyak penghargaan. Sebut saja ‘Festival Film Indonesia’ dan juga ‘MTV Movie Awards’.
Saat ini, putri pasangan Dicky Iskandardinata dan Rosery Meita tersebut tengah menyelesaikan produksi film animasi perdananya. Lagi-lagi, Nia memilih untuk mengangkat tema perempuan. 'Meraih Mimpi', yang rencananya akan rilis akhir Agustus 2009 ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan untuk memperoleh pendidikan. Rosa Hilda/ krosceknews.com/ berbagai sumber